Thursday, July 29, 2010

Mulai Menabung atau .....


"Saya sekarang sedang mulai cicilan rumah, uang saya banyak tersedot ke sana ..."

"Pengeluaran gue lagi gak teratur nih, nanti kalau sudah mulai stabil gue pasti mulai nabung..."

"Gaji saya terlalu kecil buat menabung. Mana bisa saya menabung, untuk hidup saja sudah pas-pasan"



Pada artikel sebelumny dulu kita berbicara mengenai 'Tidak ada Alasan untuk Tidak Menabung', permasalahannya adalah kapan kita akan mulai menabung...? Apakah kita harus menunggu sampai ketiga hal di atas tidak lagi terjadi, yaitu :
1. Menunggu sampai cicilan rumah selesai
2. Menunggu sampai pengeluaran menjadi stabil, atau;
3. Menunggu sampai gaji naik

Seseorang menabung bukan karena besarnya penghasilan dibanding orang lain. Amir yang bergaji 1 juta dapat menabung 50 ribu secara rutin setiap bulan , sementara Budi yang bergaji 2 juta sebulan tidak dapat menabung sama sekali. Di sini ditunjukkan bahwa gaya hidup Amir lebih memungkinkan dia untuk menabung dibandingkan Budi. Amir lebih memprioritaskan menabung daripada Budi.

Bagaimana Hal ini Dapat Terjadi ?
Jika Anda mengalami hal yang sama seperti Budi sehingga tidak dapat menabung, permasalahannya adalah :
1. Anda bukan orang pertama yang menikmati dan menerima gaji setiap bulannya (lho, kok bisa?)
2. Anda bukan prioritas utama bagi Anda sendiri

Bagaimana Mungkin?
Anda mungkin berpikir," Ah, bagaimana mungkin...ya jelas aja gw orang pertama yang menikmati gaji gw sendiri." Tapi...Apa yang sebenarnya terjadi...?

Pertama : Pajak Penghasilan
Kedua : Pembayaran Kredit Rumah/Mobil/Kartu Kredit
Ketiga : Pendidikan Anak
Keempat : Kebutuhan Rumah Tangga
Kelima : Pelayanan Kesehatan
Keenam : Perawatan Kendaraan/ Rumah

Mungkin semua hal di atas cukup dibayar lunas dengan penghasilan Anda tiap bulannya. Berarti kita menempatkan diri di urutan paling belakang atau dengan kata lain, "ya kalau ada sisi ya nabung, kalau enggak saya akan tunggu sisi bulan depan dan mulai menabung." Namun hal ini terulang lagi pada bulan berikutnya dan berikutnya.

Apa yang dapat Anda lakukan jika mengalami hal ini?
Gajilah diri Anda sendiri...PAY YOURSELF FIRST. Gunakan uang itu untuk menabung. Secara tidak langsung Anda telah membuat penyesuaian gaya hidup dengan mengurangi jatah" gaya hidup" Anda karena telah ditarik di awal untuk ditabung. Yang disebut menabung adalah suatu kepastian, bukannya kadang kala menabung dan kadang kala tidak.

Nanti Kalau Kondisi Keuangan Sudah Stabil dan Sedikit Lega, Saya Pasti Mulai Menabung...
Anda dapat mulai menabung sekarang! Anda harus mulai menabung sekarang! Mengapa harus menunda?

Tidak mudah untuk memenuhi kebutuhan manusia, setiap pemasar barang konsumtif tahu benar akan hal ini dan selalu mengambil manfaat dari sifat dasar manusia ini. Kebutuhan akan selalu meningkat, setiap kali terpuaskan akan datang sesuatu dengan tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Dulu mungkin Anda bercita-cita untuk memiliki HP Nokia 7650 yang waktu itu masih berharga hampir 4 jutaan, setelah HP tersebut di tangan, kini muncul keinginan untuk menggenggam Nokia 9500 walaupun harga barunya masih di atas 7 jutaan.

Bila Anda pernah mengatakan gaji sekarang ini terlalu kecil, mari kita renungkan beberapa pertanyaan berikut ini :
- Misalkan gaji saya 1 juta, dan itu tidak cukup. Lalu berapa yang cukup menurut saya?
- Bagaimana kalau gaji saya naik menjadi.....2 juta? Pasti akan sangat lega...
- Bagaimana setelah berjalan 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, bukankan gaji telah naik 100%
- Apakah saya merasa gaji menjadi tidak cukup lagi sekarang?
- Bagaimana jika gaji naik menjadi 4 juta?
- dalam berapa lama saya akan merasa lega?
- Bagaimana jika naik menjadi 8 juta, 16 juta?
- Lalu, adakah orang yang tidak merasa cukup dengan gaji 16 juta...Waah, banyaak.
- Gimana kalau 30 juta....

Berapapun penghasilan yang Anda sebutkan, pertanyaan dasarnya adalah : "Berapa yang bisa Anda tabung?" Jika Anda katakan bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk mulai menabung, maka yang akan terjadi adalah : ANDA TIDAK AKAN PERNAH MENABUNG!!

Sebuah Ilustrasi
Andi ingin menabung untuk kuliah anaknya, Romi. Saat ini dia masih harus melunasi cicilan KPRnya sampai 10 tahun mendatang. Usia anaknya sekarang masih 1 tahun. Seharusnya dia hanya harus menyisihkan 400ribu/bulan untuk menyediakan uang kuliah anaknya. Maka dia tunda niatnya untuk menabung sampai 5 tahun mendatang, ternyata pada saat itu istri Andi menginginkan mobil baru, jadilah mereka membeli mobil tersebut dengan cicilan selama 5 tahun.

Singkat cerita, mereka baru mulai menabung 10 tahun kemudian. Sementara jarak waktu sampai masa kuliah anaknya tinggal 7 tahun lagi. Dan untuk mencapai jumlah yang diinginkan kini dia harus menyisihkan 2.5 juta tiap bulannya !! Sementara, saat ini Romi sudah memiliki adik, dan jumlah itupun masih ahrus ditambah dengan tabungan untuk adik Romi.....Waah, jadi berat yaaa.....

Jadi, Mulailah Menabung....atau....


Salam Sukses
The Financial Tips

Investasi Untuk Pemula


JIKA Anda tergolong investor kawakan atau investor profesional
yang sudah malang melintang dalam pelbagai jenis investasi, maaf,
sebaiknya tidak usah membaca tulisan ini sebab Anda pasti akan
kecewa. Tulisan ini tidak akan memberi jurus jitu untuk para investor
profesional, melainkan sekadar sumbang pemikiran bagi kalangan awam
yang baru mulai ingin berinvestasi. Sebenarnya perihal investasi
secara sederhana sudah sering diulas dalam rubrik ini, namun karena
selalu saja ada pertanyaan mendasar dari berbagai pihak menyangkut
cara berinvestasi, tidak ada salahnya diulas sekali lagi mengenai hal
tersebut.

Pertanyaannya, siapa sebenarnya yang disebut sebagai pemula?

Apakah ada kaitannya dengan usia? Sebenarnya, pemula tidak terkait
langsung dengan usia. Kendati usia Anda sudah lanjut, namun jika
belum pernah melakukan investasi terencana di berbagai jenis
investasi dengan maksud mendapatkan hasil (return) optimal, maka Anda
dapat diklasifikasikan sebagai investor pemula. Termasuk misalnya,
Anda sudah berhubungan dan menempatkan uang di bank, tetapi belum
pernah mencoba "bermain" di pasar saham, properti, atau lain
sebagainya, maka Anda belum tergolong profesional. Namun sebaliknya,
kendati Anda berusia muda, tetapi telah menanamkan uang dalam jumlah
besar di berbagai jenis investasi dan sudah pula menangguk
keuntungan, bisa dikatakan Anda tergolong investor profesional.
Hakikatnya, investasi merupakan salah satu bagian dari
perencanaan keuangan. Artinya, dalam pakem perencanaan keuangan
penghasilan bisa dibagi menjadi tiga peruntukan, yakni konsumsi,
menabung, dan investasi. Di sini harus dibedakan antara menabung dan
investasi. Menabung lebih bersifat berjaga-jaga. Ataupun bila
memiliki tujuan tertentu biasanya tidak bersifat mengikat dan bisa
terpakai untuk hal lain. Sedangkan investasi lebih untuk menghasilkan
nilai tambah dari dana yang ditanamkan dan memiliki tujuan tertentu
dalam jangka waktu tertentu pula.

Untuk melakukan investasi harus diasumsikan Anda memang memiliki
dana tertentu yang bisa dialokasikan. Tinggal masalahnya, mau
dialokasikan ke mana dan apa tujuannya. Yang dimaksud dengan tujuan
di sini adalah horizon investasi, yakni jangka pendek atau jangka
panjang. Lalu, apakah Anda akan mencari hasil maksimal dengan
konsekuensi risiko yang tinggi, atau hasil moderat dengan risiko
sedang dan atau menginginkan risiko rendah tetapi hasilnya juga
rendah.

***
AGAR memudahkan pembahasan, tentu ada baiknya digunakan asumsi,
khususnya menyangkut usia. Kendati sama-sama pemula, namun cara
berinvestasi seseorang yang berusia muda dibandingkan yang sudah
berusia cukup lanjut relatif berbeda. Konkretnya, ada hal-hal seperti
kemampuan menanggung risiko dan jangka waktu investasi yang sulit
untuk digeneralisir bagi investor yang berbeda usia.
Untuk memudahkan pembahasan, diasumsikan investor pemula adalah
seseorang yang masih berusia muda, berkisar antara 25-30 tahun, namun
telah memiliki pekerjaan dan berpenghasilan.
Investor berusia 25-30 tahun biasanya memiliki karakter lebih
berani menanggung risiko. Benar bahwa tidak semua demikian, sebab ada
pula orang bertipe konservatif. Namun, jangan lupa bahwa bagi
kalangan berusia muda, kalaupun mengambil risiko tinggi dan kemudian
gagal, masih ada kesempatan untuk bangkit kembali. Beda jika hal
semacam itu terjadi pada orang berusia lanjut. Kegagalan akan
berakibat fatal.

Dengan asumsi seperti itu, maka konteks risiko secara teoretis
tidak mesti menjadi pertimbangan utama bagi investor berusia muda.
Tetapi, karena Anda tergolong pemula, maka awal berinvestasi
sebaiknya tidak langsung pada yang risikonya tinggi, tetapi dimulai
dengan yang risikonya rendah dan sedang. Atau bila mau memadukan
sikap konservatif, maka investasi Anda harus dialokasikan pada tiga
pilihan, yakni yang berisiko rendah, sedang, dan tinggi dengan
persentase rata.

Bagaimana konkretnya? Begini. Asumsikan Anda mengalokasikan 30
persen pendapatan Anda untuk berinvestasi. Dari 30 persen itu,
gunakan masing-masing untuk investasi dengan risiko berbeda. Sebanyak
10 persen masukkan dalam bentuk tabungan atau deposito yang tidak
untuk berjaga-jaga melainkan memang sebagai simpanan jangka panjang,
10 persen lagi alokasikan dalam bentuk reksa dana, dan 10 persen lagi
coba bermain saham. Oke, mungkin Anda akan mengatakan dana Anda
terbatas. Kalau seperti itu, 10 persen untuk tabungan, 20 persen
untuk reksa dana atau bermain saham.

Kenapa demikian? Alasannya sederhana. Karena usia masih muda,
orientasikan dulu untuk investasi jangka pendek dan memberi hasil
optimal. Dengan cara seperti ini lebih terbuka kemungkinan Anda
mendapat tambahan penghasilan yang pada gilirannya dapat digunakan
lagi sebagai "modal" berinvestasi untuk jangka yang lebih panjang. Di
sisi lain, jika Anda gagal toh masih memiliki investasi konservatif
dalam bentuk tabungan sebesar 10 persen yang dapat dipergunakan untuk
berjaga-jaga.

Jika Anda setuju dengan pandangan di atas, tinggal bagaimana
menyiasati risiko di dalam setiap pilihan investasi. Untuk tabungan,
boleh dikatakan nihil risiko karena saat ini pemerintah masih memberi
jaminan kepada penabung. Untuk reksa dana, pada dasarnya ada beberapa
jenis, misalnya, reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana
pasar uang, dan reksa dana pendapatan tetap. Masing-masing memiliki
risiko berbeda. Yang berkemungkinan memberi imbalan lebih optimal
adalah reksa dana saham, tetapi risikonya juga lebih tinggi. Nah,
Anda tinggal pilih mana yang paling sesuai dengan tujuan Anda.
Demikian juga dengan saham. Ada saham-saham blue chip dan ada
pula saham jenis "gorengan". Blue chip lazimnya lebih stabil dan
pergerakan harganya juga tidak terlalu fluktuatif daripada
saham "gorengan". Pendeknya ada banyak pilihan dalam investasi di
saham.

***
KESIMPULANNYA, investasi bagi pemula tidak selalu mesti dalam
bentuk tabungan, tetapi juga dapat dilakukan terhadap investasi
berisiko. Yang penting, pahami dulu apa tujuan Anda berinvestasi dan
untuk berapa lama. Semuanya bisa disiasati sepanjang Anda memang
bermaksud mengalokasikan dana untuk investasi dan memahami
konsekuensi dari setiap investasi tersebut.

Salam Sukses
The Financial Tips